Cinemags
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop
No Result
View All Result
Cinemags
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop
No Result
View All Result
Cinemags
No Result
View All Result

WW 1984: Sinopsis Film dan Ulasan

by Paulus Ladiarsa
December 17, 2020
in Action, Anak dan keluarga, Articles, Barat, Fiksi Ilmiah dan Fantasi, Movie Articles, Reviews, Superhero
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dengan skala konflik yang bisa dikatakan lebih besar dari yang dihadirkan sebelumnya, WW 1984 seakan menjadi ajang penegasan kualitas Patty Jenkins. Bahwa ia adalah sineas wanita jempolan yang berharga untuk kesuksesan kubu film superhero DC ke depannya dan bisa bersinergi baik dengan Zack Snyder. Dan, setelah melihat hasil arahannya di film sekuel WW ini, tidaklah mengherankan jika Jenkins menjadi lirikan banyak studio besar Hollywood, yang membuatnya digamit untuk mengarahkan film babak terbaru Star Wars, meski track record penyutradaraannya sangatlah minim. Mengapa berani dikatakan demikian? Sebelum membahas lebih lanjut mari kita simak terlebih dahulu garis besar kisah WW 1984.

Menggulirkan babak kehidupan pasca yang dituangkan di film pertamanya, Diana diceritakan masih menjalani kehidupan di dunia manusia, membantu mereka yang membutuhkan atau bilamana ada tidak kejahatan,dengan kemampuan yang dimilikinya sebagai Wonder Woman, sedangkan untuk rutinitasnya ia bekerja sebagai staf ahli di museum Smithsonian yang menerima kiriman beragam artifak maupun peninggalan berharga dari seluruh peradaban manusia.

Suatu hari museum Smithsonian menerima barang bukti berupa artifak kuno misterius. saat itulah ia pertama kalinya berjumpa dengan Barbara Minerva, staf rekrutan baru ahli sejarah benda kuno dan juga Maxwell Lord, seorang pebisnis spekulan di bidang bisnis jual beli minyak.

Dari situlah berawal konflik kompleks berskala sangat besar di mana mereka semua terkait, yang menghadirkan tantangan sangat berat bagi Diana sebagai Wonder Woman. Karena kali ini tidak hanya untuk mencegah dunia dari kehancuran global dan kemusnahan umat manusia, namun juga membuatnya harus mengambil pilihan yang paling berat dalam hidupnya,untuk bisa mengatasi tantangan ini.

Sangat menarik cara Patty Jenkins dalam mengemas WW 1984 adalah kesimpulan awal yang terbersit di kepala usai menyaksikan sajian film layar lebar aksi kedua solo Wonder Woman ini. Pasalnya, di sini gaya penyutradaraan Jenkins tidak ubahnya seperti gaya penyutradaraan Snyder di Man of Steel. Begitu banyak spektrum kisah dihadirkannya kali ini.

Baca Juga:  Robert Pattinson Tampil Mengesankan sebagai Chris Hansen di Trailer Baru Primetime

Sejalan dengan aspek komersial setting waktu yang dikedepankannya di sini, Jenkins seakan menyajikan sebuah film bergaya 80an alih-alih film bersetting tahun 1980an. Hasilnya, arahannya di sini menghadirkan kesan terasa familier di banyak adegannya. Entah itu mengingatkan pada adegan-adegan di film superhero lainnya (seperti Superman 1978, the Dark Knight, Man of Steel, maupun Wolverine –red) atau sekadar nostalgia pada era tersebut, yang jelas itu yang berbekas di benak.

 

WW 1984 berisikan banyak detail yang akan memuaskan kalangan fans komiknya (meski dihadirkan dalam interpretasi bebas sang sineas-red) dan memiliki beberapa adegan aksi yang meski tidak ada yang bisa mengulang level keepikkan sesi No Man’s Land di film pertamanya, tetap bisa dibilang memukau.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, banyak kepingan kisah yang dihadirkannya kali ini. Dan, sementara sang sineas berusaha sebaik-baiknya untuk mengeksekusi setiap kepingnya, ada yang kentara di mana ia terasa kerepotan, seperti di bagian final act-nya yang terkesan diburu-buru, padahal di bagian sesi awal hingga paruh kedua pacenya terhitung lambat. Pun juga dengan durasinya yang mencapai kisaran 150an menit, sedikit terlalu lama dan editing penyajian adegan per adegannya ada beberapa yang kurang mulus.

Dari segi jajaran pemainnya, duo Gal Gadot dan Chris Pine makin membuktikan chemistry apik keduanya yang sudah terjalin di film pertamanya. Sementara, Pedro Pascal tampil memukau sebagai Maxwell Lord dan Kristin Wiig bisa membawakan peran Barbara Minerva/ Cheetah dengan baik.

Adapun yang paling menonjol dari WW 1984 dari sisi titik berat pribadi penulis sendiri adalah sesi dramanya. Betapa sebenarnya di balik kisah aksi superheronya, sejatinya ini adalah chapter kisah Wonder Woman yang getir pun menyentuh. Dan, itu berhasil disajikan dengan baik oleh Jenkins, meski proses menuju ke sana mungkin terasa agak tidak mulus dan konklusi yang rasanya banyak audiens akan merasa tidak puas.

Baca Juga:  Review ‘Resident Evil’: Film Zombie Dari Franchise Game Legendaris Yang Akhirnya Memuaskan!

 

 

Poin plus lainnya adalah bahwa tema yang dikedepankannya, yang mengusik apa yang paling diinginkan setiap orang / mengubah keadaan notabene sangatlah signifikan dengan situasi dunia saat ini, di mana pandemi yang membawa efek dahsyat ini pasti membuat banyak orang berandai-andai punya pilihan untuk mengubah situasi ke keadaan sebelum terjadinya pandemi ini atau berharap pandemi ini tidak penah ada, tanpa memikirkan bahwa setiap kejadian pasti ada alasannya.

Secara keseluruhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, melalui WW 1984 sekali lagi Patty Jenkins berhasil menyuguhkan sebuah film superhero yang berkualitas. Yang tidak hanya mampu mengukuhkan nilai hope, compassion, trust, and faith di film pertamanya, namun juga tema signifikan dan relevan untuk situasi sekarang yang membuat film ini solid sebagai salah satu film paling berkualitas di tahun 2020 ini.

Tags: Chris PineDc UniverseGal GadotPatty JenkinsPedro PascalWarner BrosWonder Woman
Previous Post

Quintessa Swindell Bergabung dengan Black Adam sebagai Cyclone

Next Post

FILM BALADA SI ROY UMUMKAN PARA PEMAINNYA

Related Posts

Trailer Baru Fall 2: Deadpoint Tampilkan Teror Ketinggian yang Lebih Mengerikan
Action

Review ‘FALL 2: Deadpoint’: Sekuel Yang Terlalu Membuat Kompleks Formula Film Pertamanya

18/09/2026
TThe Chronicles of Narnia
Anak dan keluarga

Netflix Rilis Teaser Perdana Narnia: The Magician’s Nephew, Film Greta Gerwig Siap Bawa Dunia Fantasi Narnia ke Bioskop

18/09/2026
Trailer Live-Action Clayface Resmi Dirilis, DCU Hadirkan Teror Body Horror dari Villain Ikonik Batman
Barat

Clayface Resmi Mendapat Rating R, Film DCU Ini Siap Sajikan Body Horror Brutal

18/09/2026
Chase Sui Wonders Bergabung dengan Jennifer Aniston di Naughty, Komedi Terbaru Olivia Wilde
Barat

Chase Sui Wonders Bergabung dengan Jennifer Aniston di Naughty, Komedi Terbaru Olivia Wilde

18/09/2026
Next Post

FILM BALADA SI ROY UMUMKAN PARA PEMAINNYA

Please login to join discussion
[elfsight_youtube_gallery id="2"]

Popular 24 Hours

  • Trailer Baru Fall 2: Deadpoint Tampilkan Teror Ketinggian yang Lebih Mengerikan

    Review ‘FALL 2: Deadpoint’: Sekuel Yang Terlalu Membuat Kompleks Formula Film Pertamanya

    410 shares
    Share 164 Tweet 103
  • Netflix Rilis Teaser Perdana Narnia: The Magician’s Nephew, Film Greta Gerwig Siap Bawa Dunia Fantasi Narnia ke Bioskop

    411 shares
    Share 164 Tweet 103
  • Chris Pratt Hadapi Konspirasi Global dalam Trailer Terbaru The Terminal List Season 2

    409 shares
    Share 164 Tweet 102
  • Clayface Resmi Mendapat Rating R, Film DCU Ini Siap Sajikan Body Horror Brutal

    407 shares
    Share 163 Tweet 102
  • Sepuluh Serial Televisi yang Banyak Mengandung Konten Seksual

    5811 shares
    Share 2324 Tweet 1453
Cinemags

© 2021 - 2025 Cinemags

Information

  • About Us
  • Advertise
  • Privacy Policy
  • Contact Us

Follow Us

No Result
View All Result
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop

© 2021 - 2025 Cinemags