Setiap generasi punya kartunnya masing-masing. Kelahiran 2000-an mungkin akan menyebut Spongebob Squarepants yang jadi top of mind. Generasi 90-an dengan Doraemon yang melekat sebagai kartun di Minggu pagi. Untuk generasi 80-an mungkin ‘Masters Of The Universe’ atau He-Man yang muncul jadi top of mind.
Tanya generasi sekarang tentang He-Man, mungkin mereka tidak familiar dengan pahlawan tersebut dan petualangannya melawan Skeletor. Disinilah peran ‘Masters Of The Universe’ (2026) hadir. Sebagai gerbang pengenal bagi generasi baru kepada He-Man juga nostalgia generasi terdahulu pada kartun favorit mereka.
‘Masters of the Universe’ (2026) menceritakan Pangeran Adam yang jatuh ke Bumi saat berusia 10 tahun dan tumbuh dewasa sebagai Adam Glenn tanpa mengetahui asal-usulnya. Dua dekade kemudian, Sword of Power memanggilnya kembali ke Eternia, di mana ia harus menjadi He-Man dan mengalahkan Skeletor.
Disutradarai oleh Travis Knight, ‘Masters of the Universe’ tidak mengadaptasi langsung cerita dari serial animasi tahun 1983, melainkan menghadirkan kisah baru yang tetap menghormati materi aslinya. Hasilnya, film ini terasa sebagai modernisasi yang sukses memperkenalkan He-Man kepada generasi baru sekaligus memanjakan penggemar lama, dengan petualangan yang seru dan sangat menghibur.
Film ini gak ragu untuk membuat sebuah sajian yang campy namun works in a way yang membuat film ini jadi charming dan punya warna tersendiri. Visual yang indah dan penuh warna juga soundtrack yang kami yakin bakal jadi earworm keluar dari teater membalut di sepanjang film. Travis Knight paham dengan dunia yang ia adaptasi, menghadirkan visual yang keren dan aksi spektakuler yang bikin filmnya terasa menghibur dari awal sampai akhir.
Nicholas Galitzine tampil sangat baik sebagai He-Man dengan pesona yang kuat dan karisma yang membuat karakter ikonik tersebut terasa hidup dan likeable. Melihat dia mengangkat Sword of Power dan berteriak catchphrase iconic He-Man membuat kami merinding bahkan sebagai generasi yang tidak mengikuti Masters of The Universe.
Para side character film ini juga mempunyai porsi yang pas dan purpose yang jelas. Melihat karakter seperti Teela (Camila Mendes),Man-At-Arms (Idris Elba), Ram Man (Jon Xue Zhang) Fisto (Jóhannes Haukur Jóhannesson) dan Mekaneck (James Wilkinson) punya tujuan masing-masing yang buat kami bisa mendukung para karakter ini.
Perlu diakui stealer film ini tak lain adalah Skeletor yang diperankan oleh Jared Leto. Senang sekali melihat Skeletor bisa diadaptasi dengan baik tidak hanya sebagai villain yang jahat namun di beberapa momen juga lucu dan komikal. Tak ketinggalan juga visual dari Skeletor di film ini bagus sekali dan tidak terlihat konyol, salah satu best use of practical yang dicampur dengan cgi.
Gak terhitung berapa kali kami tertawa kencang melihat celetukan juga aksi yang dilakukan para karakter yang ada di film ini. Sesuai dengan rating film-nya SU (Semua Umur) ‘Masters Of The Universe’ benar-benar bisa dinikmati tak hanya oleh anak-anak namun juga orang tua yang ikut menonton.
Meski ada isu dengan pacing film ini terutama di act kedua yang terasa lambat namun humor serta karisma dari para aktor film ini more than enough untuk menjadi kandidat film musim panas terbaik tahun ini, a true summer flick! Selesai menonton film ini ada satu kata yang jadi top of mind kami “Fun”. Definisi film summer blockbuster yang cocok dinikmati bersama keluarga atau sahabat terdekat.
Tayang mulai 3 Juni di seluruh bioskop Indonesia! You don’t want to miss this one!
By The Power of Grayskull i give this film: 4 / 5
Penulis: Rafy Khilzy







