Cinemags
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop
No Result
View All Result
Cinemags
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop
No Result
View All Result
Cinemags
No Result
View All Result

Diskriminasi Masyarakat dalam Film School Ties

by Kent
November 6, 2015
in Reviews, User News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Siapa yang tidak kenal Brendan Fraser, Chris O’Donnell, Matt Damon, dan Ben Affleck? Keempat aktor tersebut pernah bermain dalam sebuah film yang bisa dibilang mengawali karir mereka, sebuah film berjudul School Ties. Film School Ties menceritakan tentang seorang siswa bernama David Greene (Brendan Fraser) yang beragama yahudi yang bersekolah di suatu sekolah katolik dimana para siswanya tidak menyukai orang yahudi, hal ini mengharuskan dirinya untuk menjaga identitas diri agar pertemanan dan pendidikannya terjaga.
Hal yang saya sukai dari film ini adalah bagaimana film ini dapat menggambarkan suasana kegiatan persekolahan di jaman tersebut dengan baik. Sebagai contoh, terdapat adegan dimana terdapat seseorang di suatu kelas yang melakukan kecurangan dalam ujian, setelah ujian selesai guru dari kelas tersebut menemukan kertas yang berisi contekan tertinggal di lantai, hal itu membuat guru tersebut merasa bahwa siswa di kelas tersebut tidak menghargai kejujuran sehingga pada kelas berikutnya guru tersebut mengancam tidak akan meluluskan seluruh kelas jika tidak ada yang mengaku, selain itu guru tersebut menolak untuk melakukan ujian ulang karena menurutnya jika mereka melakukan hal tersebut, berarti tidak menghargai arti kejujuran.
Karena kejadian tersebut, seluruh kelas berkumpul untuk membicarakan hal itu. Dalam adegan ini kita dapat melihat saat mereka sedang mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan, ada murid yang berargumen bahwa reputasi sekolah ditentukan oleh keputusan mereka dalam mengungkapkan kejujuran, tetapi hal tersebut dibantah oleh temannya, orang tersebut mengatakan bahwa jika mereka mengambil suatu keputusan, keputusan tersebut akan menghancurkan masa depan salah satu dari mereka. Dari adegan ini kita dapat melihat bahwa untuk membuat keputusan yang benar tidaklah mudah karena menurut mereka cara dalam menjalani kehidupan pendidikan adalah dengan melakukan hal yang diminta oleh sekolah seperti nilai yang baik agar masa depan seseorang terjamin dengan segala cara, selain itu kita juga dapat melihat bahwa beberapa siswa tidak memedulikan sekolah mereka dan hanya menggunakan sekolah untuk masa depan karir dikarenakan sistem yang sudah tertanam di masyarakat dalam dunia karir hanyalah melihat kelebihan seseorang melalui riwayat pendidikannya.
Dalam adegan yang sama kita dapat melihat Greene yang beragama yahudi tersebut dipojokkan dan dikhianati oleh temannya dan dituduh sebagai orang yang melakukan kecurangan, dalam adegan ini kita dapat melihat bahwa argume-argumen mereka hanya didasarkan pada generalisasi yang buruk dari masyarakat terhadap kaum yahudi, hal ini menyebabkan dirinya terancam dikeluarkan dari sekolah. Dari adegan ini kita melihat bahwa subjektifitas dan generalisasi masyarakat terhadap sesuatu dapat menyebabkan suatu masalah yang memengaruhi masa depan pada seseorang hanya karena ketidaksukaan pada orang tersebut.

Baca Juga:  Review Insidious: Out Of The Further – Kembalinya Franchise Horor Ikonik dengan Formula Baru

Film ini juga menunjukkan bahwa perbedaan lingkungan budaya dapat menyakiti seseorang dan dapat berakibat buruk, contohnya seperti sebuah candaan ataupun perkataan yang menurut kita adalah ungkapan umum, tetapi hal tersebut dapat diinterpretasikan sebagai hal yang buruk, apalagi provokatif bagi beberapa orang. Masalah ditunjukkan melalui beberapa adegan dimana beberapa candaan dan ungkapan tentang yahudi dikeluarkan murid-murid sekolah tersebut, tetapi bagi Greene candaan dan ungkapan tersebut membuat dirinya tersinggung, dan terdapat adegan dimana seseorang mengejeknya dengan sebuah poster yang menyinggung tentang bagaimana yahudi diperlakukan NAZI sehingga hal tersebut membuatnya sangat marah. Dalam film ini kita dapat melihat bahwa masalah-masalah seperti ini menyebabkan orang tersebut sulit bekerja sama dengan murid-murid lainnya, terutama dalam kegiatan pendidikan.

Dalam film ini kita dapat melihat bahwa masih banyak hambatan-hambatan lain yang dapat memengaruhi masa depan seseorang, terutama dalam menjalani pendidikan, salah satu adalah tekanan dari ekspektasi orang lain, hal ini dapat dilihat saat Charlie Dillon (Matt Damon) bermain football, pada suatu pertandingan dirinya tidak bermain dalam performa terbaiknya, sementara pada hari yang sama kakaknya menerima penghargaan Hall of Fame sebagai pemain football di sekolah tersebut. Hal tersebut membuat dirinya kecewa karena tidak dapat memenuhi ekspektasi yang diberikan. Hal ini juga bisa kita lihat saat seorang murid yang bersekolah di sekolah dimana seluruh keluarganya secara turun-temurun bersekolah di sana tetapi dirinya terancam tidak lulus di sekolah tersebut karena suatu pelajaran dimana guru pelajaran tersebut terlalu menuntut agar muridnya sempurna. Hal tersebut menyebabkan dirinya depresi bahkan mencoba melakukan bunuh diri. Pesan yang disampaikan film ini adalah sebaiknya kita tidak melakukan sesuatu berdasarkan ekspektasi seseorang, tetapi berdasarkan keinginan kita sendiri. Selain itu dalam film ini kita dapat melihat bahwa generalisasi yang buruk dari masyarakat terhadap suatu kelompok dan berakibat buruk terhadap seseorang.

Baca Juga:  Review Film ‘Mutiny’ (2026): Aksi Jason Statham yang Seru, tapi Terlalu Familiar

linebreak

Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags dan telah disunting sesuai standar penulisan kami. Andapun bisa membuatnya di sini.

Tags: School Ties
Previous Post

Review Film The Prestige, Keajaiban Sulap dalam Film

Next Post

Citizenfour: Menguak "Mata" Pemerintah Amerika Serikat

Related Posts

Review Film ‘Mutiny’ (2026): Aksi Jason Statham yang Seru, tapi Terlalu Familiar
Action

Review Film ‘Mutiny’ (2026): Aksi Jason Statham yang Seru, tapi Terlalu Familiar

21/08/2026
Review Insidious: Out Of The Further  – Kembalinya Franchise Horor Ikonik dengan Formula Baru
Barat

Review Insidious: Out Of The Further – Kembalinya Franchise Horor Ikonik dengan Formula Baru

21/08/2026
Review The End Of Oak Street  – Film Dinosaurus Terbaik Dalam 10 Tahun Terakhir?
Barat

Review The End Of Oak Street – Film Dinosaurus Terbaik Dalam 10 Tahun Terakhir?

12/08/2026
Spider-Man: Brand New Day
Action

Review ‘Spider-Man: Brand New Day’ – Petualangan Spider-Man Yang Lebih Mature Tapi Dekat Di Hati

29/07/2026
Next Post

Citizenfour: Menguak "Mata" Pemerintah Amerika Serikat

Please login to join discussion
[elfsight_youtube_gallery id="2"]

Popular 24 Hours

  • Review Film ‘Mutiny’ (2026): Aksi Jason Statham yang Seru, tapi Terlalu Familiar

    Review Film ‘Mutiny’ (2026): Aksi Jason Statham yang Seru, tapi Terlalu Familiar

    438 shares
    Share 175 Tweet 110
  • Jim Caviezel Berubah Jadi Mesin Pembunuh ala John Wick di Trailer Ghost Soldier

    405 shares
    Share 162 Tweet 101
  • Film Animasi Niu Lai Raup Lebih dari 1000 Kali Lipat Biaya Produksi dalam Hitungan Hari

    404 shares
    Share 162 Tweet 101
  • Oki & Nirmala Resmi Diangkat ke Layar Lebar, Produksi Dimulai September 2026

    409 shares
    Share 164 Tweet 102
  • Lego One Piece Rilis Trailer Perdana, Luffy dan Kru Topi Jerami Jadi Lego

    402 shares
    Share 161 Tweet 101
Cinemags

© 2021 - 2025 Cinemags

Information

  • About Us
  • Advertise
  • Privacy Policy
  • Contact Us

Follow Us

No Result
View All Result
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop

© 2021 - 2025 Cinemags