Jika mendengar nama Na Hong-Jin, yang pertama terpikirkan oleh banyak orang pastinya adalah ‘The Wailing’ yang dianggap sebagai film Korea Selatan terseram sepanjang masa. Tahun 2026 ini, Na Hong-Jin kembali dengan karya terbarunya ‘HOPE’, film yang memecahkan sejarah perfilman Korea Selatan karena menjadi film dengan budget tertinggi di negeri ginseng tersebut.
Film ini sebelumnya berhasil menarik perhatian dunia setelah mendapat standing ovation selama 7 menit di Cannes Film Festival. Dibintangi sederet nama besar seperti Hwang Jung-min, Zo In-sung, Jung Ho-yeon, hingga duo Hollywood Michael Fassbender dan Alicia Vikander.
Berbeda dengan ‘The Wailing’, ‘HOPE’ teror makhluk misterius yang menyerang sebuah desa nelayan terpencil bernama Hope Harbor di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea Selatan. Dari sinopsisnya saja bisa diketahui bahwa film ini menawarkan sajian berbeda dari Na Hong-Jin.
OKAY LET’S ADDRESS THE ELEPHANT IN THE ROOM! Iya, memang CGI film ini mengejutkan (in a bad way). Dengan iming-iming film termahal di Korea Selatan, kami terkejut saat melihat CGI yang kurang terpoles dan malah mengingatkan kami ke animasi dari game-game PS3 tahun 2000-an. Namun, kami tetap meyakini bahwa sebuah film tidak bisa dinilai hanya dari CGI-nya bagus atau tidak.
Saat menonton film ini terasa dari awal bahwa Na Hong-Jin ingin membuat sebuah misteri yang sangat intriguing. Slow burn memang, tapi bukan berarti itu hal yang buruk, misteri yang dibangun dengan sangat baik di paruh awal film. Kami benar-benar terpaku ke layar selama satu jam pertama film ini.
Melihat kerusakan Hope Harbour serta korban-korban disekitarnya membuat stakes film ini sangat tinggi di awal. Apa yang membuat semua ini terjadi? Sebesar apa alien ini? Semengerikan apa alien ini? Semua pertanyaan itu dijawab di satu jam pertama film ini. Memang paruh awal film yang sangat-sangat menyenangkan.
Namun, sayangnya paruh kedua film ini kami rasa agak bertele-tele. Memang film ini slow burn mystery, tapi tetap kami merasa bahwa film ini seperti monoton di paruh akhir. Sequence kejar-kejaran antara alien dan manusia di film ini terasa berulang-ulang tanpa ada pay off yang jelas atau memuaskan. Sayang sekali karena di awal film ini meskipun pelan namun berhasil membuat penonton intrigue dengan layer misteri yang disajikan.
Satu hal yang jadi point plus film ini adalah production value yang mengagumkan. Kekacauan yang terjadi di desa ditampilkan dengan skala yang besar dan terasa sangat nyata. Praktikal efek yang digunakan di film ini juga berhasil membuat kita merasa linu dan jijik saat menontonnya.
Untuk akting, kami rasa semua bintang disini mendapat spotlight yang pas dengan akting yang baik dari para cast. Na Hong-Jin memberikan porsi yang pas untuk setiap karakter disini, meski tidak adanya backstory yang jelas tapi kami masih merasa peduli pada beberapa karakter di film ini. Satu hal yang kami tidak expect juga adalah dialog di film ini banyak yang lucu, bukan lucu yang terkesan maksa tapi lucu karena natural.
Bisa dirasa juga bahwa dari film ‘HOPE’ ini Na Hong-Jin ingin membahas sebuah pesan tentang perbedaan ras, suku dan budaya juga bagaimana semua itu bisa jadi berantakan hanya karena miskomunikasi dari para pihak yang bersangkutan. Sebuah pesan yang cukup dalam dan penting apalagi di era sekarang.
Overall, ‘HOPE’ merupakan film yang fun! Sebuah petualangan sci-fi yang penuh kejutan dan terasa seperti pengalaman menonton yang sulit dilupakan. Film ini berhasil memadukan humor, ketegangan, dan aksi brutal dengan pas. Ada banyak momen yang menghibur, adegan menegangkan yang bikin ikut cemas, serta aksi-aksi intens yang membuat ceritanya semakin seru. Semua elemen itu membuat ‘Hope’ seru untuk diikuti dari awal sampai akhir, sebuah petualangan sci-fi yang spektakuler, liar, dan berkesan.
Rating: 4/5 ⭐
Penulis : Rafy Khilzy







