Kesuksesan besar Obsession ternyata membawa masalah baru. Film horor yang menjadi salah satu kejutan terbesar di box office abad ini kini menghadapi persoalan hukum setelah seorang produser mengajukan gugatan terhadap perusahaan produksi di balik film tersebut.
Tea Shop Productions, yang memproduksi Obsession bersama Blumhouse Productions dan Capstone Studios, kini digugat oleh produser eksekutif Leonora Ann Darby. Ia menuduh James Harris dan Mark Lane telah mengingkari kesepakatan terkait pembagian keuntungan yang seharusnya ia terima.
Gugatan tersebut diajukan pada 28 Agustus di Los Angeles Superior Court sebagai perkara pelanggaran kontrak. Dalam dokumen setebal 135 halaman, Darby mengklaim dirinya bergabung dengan Tea Shop Productions pada 2019 dengan janji akan diperlakukan sebagai produser setara.
Menurut gugatan tersebut, Darby seharusnya mendapatkan 33,33 persen dari keuntungan bersih yang diterima Tea Shop dari film-film yang dipimpinnya sebagai produser. Ia juga disebut memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pengelolaan rekening penerimaan keuntungan film.
Darby mengklaim telah memenuhi kewajibannya selama bertahun-tahun, termasuk mengembangkan proyek, mencari dan merekrut filmmaker, serta membantu berbagai produksi. Salah satu kontribusi terbesarnya disebut terjadi ketika Obsession mengalami masalah dan membutuhkan bantuan agar produksinya kembali ke jalur yang benar.
Film tersebut kemudian berubah menjadi fenomena global. Dengan anggaran kurang dari US$1 juta (sekitar Rp17,8 miliar), Obsession dilaporkan menghasilkan sekitar US$510 juta atau sekitar Rp9,06 triliun di seluruh dunia. Kesuksesan itu membuatnya disebut sebagai film horor orisinal dengan pendapatan tertinggi pada abad ini dan salah satu film independen tersukses sepanjang masa.
Namun, Darby mengklaim dirinya justru tidak menerima bagian keuntungan yang semestinya. Ia mengatakan hanya mendapatkan satu pembayaran awal serta tambahan US$300.000 (sekitar Rp5,3 miliar) setelah film selesai.
Dalam gugatannya, Darby menuduh kedua produser tersebut memperlakukannya seperti bawahan dan tidak memenuhi janji kompensasi yang telah disepakati. Ia juga menuduh adanya perlakuan yang merendahkan dan bernuansa gender.
Kasus ini tentu menjadi perkembangan menarik di balik kesuksesan fenomenal Obsession. Untuk saat ini, belum ada hasil akhir dari gugatan tersebut dan tuduhan Darby masih merupakan klaim dalam proses hukum.




