‘Rose’ menjadi salah satu film yang mencuri perhatian dalam gelaran Jakarta World Cinema (JWC) 2026. Mengambil latar Eropa pada abad ke-17, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang berbeda melalui penggunaan sinematografi hitam-putih yang artistik dan atmosfer yang begitu kuat. Film ini disutradarai oleh Markus Schleinzer dan dibintangi oleh Sandra Hüller.
Berlatar pada abad ke-17 setelah Perang Tiga Puluh Tahun, film ini mengikuti Rose, seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki demi mendapatkan kehidupan dan kebebasan yang tidak bisa ia peroleh dalam masyarakat patriarkal pada masanya. Rose merupakan sebuah drama sejarah yang menawarkan pengalaman sinematik yang begitu kuat melalui kisah tentang identitas, kebebasan, dan perjuangan seseorang untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat.
Sandra Hüller berhasil menghadirkan karakter Rose dengan begitu meyakinkan melalui ekspresi, gestur, hingga detail-detail kecil yang memperlihatkan pergulatan emosional karakternya. Penampilannya terasa subtil, tetapi mampu menyampaikan begitu banyak hal tanpa harus selalu mengandalkan dialog. Sungguh salah satu performance terbaik dalam karir sang aktris!
Penggunaan sinematografi hitam-putih menjadi keputusan artistik yang sangat tepat. Komposisi gambarnya terasa indah sekaligus muram, memperkuat atmosfer Eropa abad ke-17 yang dingin dan penuh tekanan. Setiap adegan juga terasa diperhitungkan, membuat film ini memiliki identitas visual yang kuat.
Alih-alih menjadikan penyamaran sebagai sekadar elemen kejutan, ‘Rose’ justru menggunakannya sebagai landasan untuk mengeksplorasi persoalan identitas dan kebebasan seseorang dalam menentukan jalan hidupnya. Konflik yang dihadapi Rose pun tidak hanya berkutat pada upayanya mempertahankan identitas barunya, tetapi juga perjuangannya menghadapi sistem sosial yang membatasi ruang gerak perempuan, mulai dari hak kepemilikan, status sosial, hingga kebebasan menentukan masa depan. Pendekatan ini membuat cerita ‘Rose’ terasa lebih mendalam dan reflektif, sekaligus menghadirkan kritik terhadap norma masyarakat pada masanya.
Secara keseluruhan, ‘Rose’ merupakan drama sejarah yang kuat dengan cerita berlapis, akting memukau, dan visual hitam-putih yang artistik. Meskipun ceritanya terasa familiar, namun film ini menghadirkan refleksi tentang identitas, kebebasan, dan ketidakadilan sosial yang tetap relevan hingga saat ini.
⭐4 / 5






