Tahun 2026 ini jadi tahun yang besar untuk DC Cinematic Universe (DCU), Di awali dengan ‘Supergirl’ (2026) yang kurang berhasil di box office serta secara kritik. Lalu berlanjut ke ‘Lanterns’ (2026) yang sukses besar meraih lebih dari 20 juta penonton per episode dan dicintai oleh kritikus serta fans. Oktober ini, DC kembali dengan film yang terasa “berani” yaitu ‘Clayface’ (2026) buah tangan James Watkins yang sebelumnya membuat film ‘Speak No Evil’ (2024) dan ‘Eden Lake’ (2008). Kenapa saya bilang “berani”? Karena film ini berupa sajian body horror dari universe yang sama dengan ‘Superman’ (2025).
‘Clayface’ mengisahkan tragedi Matt Hagen (Tom Rhys Harries), seorang aktor asal Gotham yang mengalami kerusakan wajah setelah diserang bos mafia. Berusaha mengembalikan penampilannya, Matt menjalani eksperimen medis yang justru mengubah tubuhnya menjadi tanah liat hidup dan perlahan mengancam kewarasannya.
Sejujurnya, ekspektasi awal terhadap ‘Clayface’ tidak terlalu tinggi. Karena alasan sederhana: SIAPA YANG MINTA DIBUATKAN FILM DARI KARAKTER INI? Di antara deretan karakter ikonik DC, sosok yang dikenal sebagai salah satu musuh Batman ini mungkin bukan nama pertama yang muncul ketika membicarakan karakter yang layak mendapatkan film sendiri. Alasan itu juga yang membuat DC terasa “berani” untuk membuat film ini.
Melihat materi promosi dan trailer-nya, film ini tampaknya akan berfokus pada elemen body horror dengan visual grotesk sebagai daya tarik utamanya. Hasilnya? ‘Clayface’ menyajikan body horror brutal, menjijikkan, dan penuh darah yang memuaskan!
Tom Rhys Harries berhasil menghidupkan karakter Matt Hagen dengan sangat meyakinkan. Penonton bisa merasakan penderitaannya sekaligus memahami keputusasaan yang mendorongnya. Ada momen yang buat kita sadar bahwa tindakannya salah, justru itulah daya tarik karakternya. Harries mampu membangun simpati terhadap sosok yang tindakannya tidak selalu bisa dibenarkan.
‘Clayface’ benar-benar berfokus pada origin story karakternya sebagai antagonis. Film ini tidak terburu-buru mengubah tokoh utamanya menjadi sosok yang mudah disukai, melainkan membangun tragedi yang menjadi bagian penting dari perjalanannya. Penonton diajak memahami penderitaan dan perubahan yang dialaminya tanpa harus membenarkan setiap tindakannya.
Pendekatan ini membuat perjalanan karakternya terasa lebih menarik. Ada perbedaan antara membuat penonton bersimpati dengan meminta mereka memaklumi segala sesuatu yang dilakukannya. ‘Clayface’ menjadikan kisahnya lebih dari sekadar cerita body horror dengan visual mengerikan.
Film ini menjadi bukti bahwa DCU memiliki ruang untuk bereksperimen dengan pendekatan berbeda dan tidak mengikuti formula comic book films pada umumnya. Dengan memadukan tragedi, humor gelap, dan body horror yang brutal, ‘Clayface’ menawarkan pengalaman yang terasa berbeda dari apa yang biasanya kita temukan dalam genre ini.
Rating: 4/5 ⭐
Penulis : Rafy Khilzy






