Gelombang penolakan terhadap rencana merger raksasa media Paramount Global dan Warner Bros. Discovery semakin membesar. Lebih dari 1.000 pelaku industri hiburan Hollywood, mulai dari aktor hingga sutradara papan atas, menandatangani surat terbuka yang menentang kesepakatan kontroversial tersebut.
Sejumlah nama besar ikut menyuarakan penolakan, termasuk J. J. Abrams, Joaquin Phoenix, Ben Stiller, Jane Fonda, hingga Glenn Close. Mereka menilai merger ini berpotensi memperburuk kondisi industri yang sudah tertekan akibat gelombang konsolidasi sebelumnya.
Dalam surat yang dipublikasikan oleh The New York Times, para penandatangan menyoroti dampak negatif konsolidasi media, mulai dari hilangnya film dengan anggaran menengah, melemahnya distribusi independen, hingga berkurangnya peluang kerja bagi pekerja industri—baik di depan maupun di balik layar.
Penolakan juga datang dari kalangan sineas ternama seperti Adam McKay, David Fincher, dan Denis Villeneuve. Mereka khawatir merger ini akan mengurangi persaingan sehat serta mengancam keberlanjutan ekosistem kreatif Hollywood.
Kontroversi ini semakin memanas setelah sejumlah pejabat pemerintah ikut angkat suara. Bahkan, sekelompok senator Amerika Serikat menyebut kesepakatan tersebut sebagai potensi ancaman terhadap keamanan nasional, terutama terkait isu investasi asing dan pengaruh luar terhadap industri hiburan.
Di sisi lain, CEO Paramount, David Ellison, sebelumnya telah mengungkap rencana ambisius untuk menggabungkan layanan streaming Paramount+ dengan HBO Max. Langkah ini memicu kekhawatiran baru di kalangan penonton mengenai masa depan konten favorit mereka.
Dewan direksi Warner Bros. Discovery dijadwalkan melakukan pemungutan suara terkait merger ini pada 23 April. Meski peluang persetujuan internal cukup besar, jalan menuju persetujuan regulator diperkirakan masih panjang, terutama karena tantangan hukum terkait antimonopoli dan keamanan nasional.
Dengan tekanan dari berbagai pihak yang terus meningkat, masa depan merger Paramount–Warner Bros. kini berada di persimpangan. Jika disetujui, kesepakatan ini bisa mengubah lanskap industri hiburan global—namun dengan risiko besar yang masih menjadi perdebatan sengit di kalangan pelaku industri.






