Selama tiga musim, Reacher selalu menegaskan satu hal: Jack Reacher bisa menghancurkan siapa pun dengan kepalan tangannya yang besar. Interpretasi Alan Ritchson terhadap karakter ikonis ciptaan Lee Child memang sangat menonjolkan sisi fisik — pukulan brutal, lawan tumbang dalam hitungan detik, hingga aksi bak membalik mobil tanpa usaha.
Namun, ada satu sisi Reacher yang selama ini nyaris tak tersentuh di layar. Dan Season 4 tampaknya siap memperbaikinya. Percaya atau tidak, kekuatan super sejati Jack Reacher bukanlah tubuhnya — melainkan otaknya.
Serial Reacher sebenarnya tidak pernah mengatakan bahwa Reacher bodoh. Masalahnya, serial ini jarang memberi ruang bagi Reacher untuk membuktikan kecerdasannya secara nyata. Dalam novel-novel Lee Child, Reacher bukan hanya pintar — ia nyaris superhuman dalam hal analisis dan deduksi.
Lee Child secara terbuka mengakui bahwa Sherlock Holmes menjadi salah satu inspirasi utama karakter ini. Reacher versi buku memiliki “jam internal” yang selalu akurat, terobsesi dengan angka, mampu menghitung probabilitas dalam kepala, membaca pola perilaku, memperkirakan kecepatan kendaraan hanya dengan melihatnya, dan mengambil keputusan berdasarkan logika dingin — bukan insting semata.
Season pertama, yang diadaptasi dari Killing Floor, sempat mendekati penggambaran ini. Penonton masih bisa melihat kilasan naluri deduktif Reacher yang tajam. Namun di musim-musim berikutnya, sisi tersebut perlahan menghilang. Kehadiran Neagley bahkan membuat banyak proses analisis terjadi di luar layar, sementara Reacher lebih sering tampil sebagai mesin pemukul.
Season 3 justru memperburuk keadaan. Cerita terlalu mengandalkan kebetulan dan bahkan menghadirkan beberapa keputusan Reacher yang terasa janggal — seperti menyembunyikan ponsel di dalam sarung bantal. Versi Reacher seperti ini jelas tidak akurat dengan sumber aslinya.
Bagi pembaca setia novelnya, ini adalah kehilangan besar. Reacher seharusnya menjadi kombinasi mematikan antara otak dan otot — bukan sekadar “Hulk versi militer”.
Season 4 akan mengadaptasi novel Gone Tomorrow, dan pilihan ini menjadi sinyal kuat perubahan arah. Novel tersebut dibuka dengan salah satu momen paling ikonik dalam seluruh seri Reacher.
Di dalam kereta, Reacher mengamati seorang perempuan yang perilakunya terasa “tidak pas”. Alih-alih langsung bertindak, ia menjalankan daftar analisis mental: postur tubuh, cara berdiri, pilihan pakaian, gerakan mikro, hingga pola napas — semua dihitung untuk menentukan satu kemungkinan mengerikan: apakah perempuan itu seorang pelaku bom bunuh diri?
Jika serial ini setia pada adegan pembuka tersebut, maka Season 4 akhirnya akan memberi Alan Ritchson ruang untuk menampilkan Reacher yang sesungguhnya: taktisi dingin, pengamat ekstrem, dan pemikir cepat yang mematikan.
Bukan hanya pria besar yang datang saat seseorang perlu dipukul — tetapi sosok yang sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum siapa pun menyadarinya.






