Setelah 16 tahun, dunia Facebook kembali diangkat ke layar lebar lewat The Social Reckoning. Namun, jangan berharap film ini menjadi sekuel langsung dari The Social Network (2010). Alih-alih melanjutkan perjalanan Mark Zuckerberg, film ini mengambil sudut pandang baru lewat kisah Frances Haugen, mantan karyawan Facebook yang membocorkan dokumen internal perusahaan dan mengungkap berbagai persoalan di balik platform media sosial raksasa tersebut.
Aaron Sorkin kembali terlibat sebagai penulis, tetapi kali ini ia juga duduk di kursi sutradara. Mikey Madison dipercaya memerankan Frances Haugen, sementara Jeremy Allen White tampil sebagai jurnalis Wall Street Journal, Jeff Horwitz, dan Jeremy Strong sebagai Mark Zuckerberg. Jajaran cast lainnya diisi Wunmi Mosaku, Betty Gilpin, Billy Magnussen, hingga Bill Burr.
Film ini menceritakan Frances Haugen, seorang data engineer yang bekerja di Facebook dan mulai melihat berbagai persoalan di balik sistem perusahaan tersebut. Ketika menemukan bukti bahwa keputusan dan algoritma Facebook berpotensi memperburuk penyebaran misinformasi serta berbagai masalah sosial, Frances memutuskan untuk membawa temuannya ke publik.
Ia kemudian bekerja sama dengan jurnalis Wall Street Journal, Jeff Horwitz, dalam sebuah investigasi yang perlahan membuka sisi lain dari salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. Dari sinilah konflik utama film berkembang, ketika Frances harus berhadapan dengan tekanan besar dari perusahaan sekaligus konsekuensi dari keputusan untuk membocorkan apa yang ia ketahui.
Meski hadir sebagai kelanjutan cerita dan bukan lanjutan kronologis secara langsung, The Social Reckoning tetap mampu menyajikan kisah yang menarik dan relevan. Berbeda dari film pertamanya yang berfokus pada lahirnya Facebook dan perjalanan Zuckerberg membangun raksasa teknologi tersebut, The Social Reckoning lebih tertarik membongkar konsekuensi dari kekuasaan yang sudah dimiliki platform tersebut. Film ini memperlihatkan bagaimana algoritma, misinformasi, dan kepentingan bisnis dapat beririsan dengan kehidupan sosial dan politik masyarakat
Kekuatan terbesarnya ada pada jajaran pemain. Mikey Madison memberikan penampilan yang sangat kuat sebagai Frances Haugen. Ia tidak memainkan Haugen sebagai sosok pahlawan yang serba yakin, tetapi sebagai seseorang yang berada dalam dilema besar. Ada keraguan, ketakutan, sekaligus keberanian yang perlahan muncul sepanjang film. Madison berhasil membuat perjalanan emosional karakternya terasa manusiawi dan tidak berlebihan.
Sementara itu, Jeremy Strong mengambil peran sebagai Mark Zuckerberg. Performanya cukup mencuri perhatian, meski pendekatan terhadap karakternya terasa jauh berbeda dari Jesse Eisenberg dalam The Social Network. Zuckerberg di film ini lebih ditempatkan sebagai figur korporat yang berada di pusat konflik daripada karakter utama yang menjadi pusat perjalanan cerita.
Dari sisi naskah, Aaron Sorkin masih menunjukkan kekuatan yang sama. Dialog-dialognya cepat, tajam, penuh informasi, dan memiliki ritme khas yang sudah menjadi ciri khasnya. Bahkan, kualitas penulisannya terasa mengingatkan kembali pada The Social Network. Sorkin mampu mengubah topik yang sebenarnya cukup teknis—algoritma, misinformasi, whistleblower, hingga investigasi jurnalistik—menjadi percakapan yang tetap terasa dramatis.
Namun, disinilah perbedaan paling terasa dengan film pertamanya. The Social Network memiliki kombinasi langka antara naskah Sorkin dan penyutradaraan David Fincher yang begitu kuat secara visual. Fincher memberikan atmosfer dingin, intens, dan penuh paranoia yang membuat cerita tentang Facebook terasa seperti sebuah thriller. The Social Reckoning tidak memiliki energi visual yang sama. Sorkin memang mampu menjaga film tetap bergerak dengan cepat, tetapi penyutradaraannya tidak memberikan sensasi sinematik yang sekuat Fincher.
Bukan berarti The Social Reckoning adalah film yang buruk tanpa Fincher. Justru sebaliknya, film ini tetap solid dan punya sesuatu yang ingin disampaikan. Namun, ketika sebuah film lahir dari dunia yang sama dengan The Social Network, perbandingan tersebut hampir tidak bisa dihindari. Gaya Fincher, visualnya, atmosfernya, bahkan cara ia membangun karakter Zuckerberg pada film pertama meninggalkan standar yang sangat tinggi.
The Social Reckoning memang belum mampu menyamai ketinggian film pertamanya, tetapi tetap menjadi sebuah sekuel yang solid, relevan, dan layak disaksikan.
Rating: 3.5/5 ⭐







