Di tengah maraknya film horor Indonesia yang mengandalkan kejutan dan mitologi populer, Lastri: Arwah Kembang Desa hadir membawa nuansa berbeda. Film garapan sutradara Hendry Tivo ini mengajak penonton kembali ke atmosfer pedesaan pada era 1980-an, menghadirkan kisah yang berakar pada urban legend serta kepercayaan masyarakat yang masih lekat dengan hal-hal mistis.
Alih-alih sekadar menyuguhkan rentetan adegan menyeramkan, film ini membangun ketegangan melalui suasana, tradisi, dan misteri yang perlahan mengungkap rahasia kelam di balik sosok Lastri.
Film ini terinspirasi dari kisah di kota Pati, Jawa Tengah, menggabungkan unsur horor, drama dan komedi, mengambil lokasi syuting di kota Lumajang, Jawa Timur, kota yg masih memiliki suasana pedesaan yg natural, menjadikan film ini sangat menarik untuk ditonton.
Horor yang Berjalan Bersama Konflik Kemanusiaan
Kekuatan Lastri: Arwah Kembang Desa tidak hanya terletak pada elemen supranaturalnya. Hendry Tifo juga memberi ruang bagi konflik emosional para karakter untuk berkembang, sehingga ancaman yang muncul terasa memiliki konsekuensi yang lebih dalam daripada sekadar teror fisik.
Pendekatan tersebut membuat film ini berusaha menyeimbangkan unsur horor dengan drama, menghadirkan cerita yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga mengajak penonton memahami luka, penyesalan, dan hubungan antarmanusia yang menjadi akar dari berbagai peristiwa mengerikan di dalamnya.
“Ini adalah urban legend, tapi bukan berdasarkan kisah nyata, ya. Kita terinspirasi, karena udah banyak yang kita rombak,” kata Hendry Tivo, Sutradara LastriL Arwah Kembang Desa.
Penampilan Terakhir Gary Iskak di Layar Lebar
Di luar ceritanya, Lastri: Arwah Kembang Desa memiliki makna emosional tersendiri karena menjadi salah satu penampilan terakhir Gary Iskak di layar lebar.
Kehadirannya memberikan nilai sentimental bagi film ini. Bagi para pemain maupun tim produksi, karya ini bukan sekadar film horor, melainkan juga menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang Gary Iskak sebagai salah satu aktor yang telah memberi warna bagi industri perfilman Indonesia selama bertahun-tahun.
Richa Novisha, istri dari Gary Iskak menjelaskan film ini memberikan memori yang akan dikenangnya seumur hidup.
“Senang banget ada kenangan memori yang insyaallah akan terkenang seumur hidup dengan menonton film ini. Setidaknya ada momen mengobati kangen ya, begitu,” –
Lebih dari Sekadar Film Horor
Dengan latar era 1980-an, sentuhan urban legend lokal, serta drama yang menyertai perjalanan para tokohnya, Lastri: Arwah Kembang Desa berusaha menawarkan pengalaman menonton yang lebih berlapis dibanding horor konvensional.
Bagi penikmat film horor yang menyukai atmosfer mencekam sekaligus cerita yang memiliki muatan emosional, film ini menjadi salah satu judul yang layak masuk dalam daftar tontonan.
Penulis: Dimas






