Spoiler Alert!!!!!
Netflix mungkin mengira mereka sedang memanjakan penggemar ketika merilis One Last Adventure: The Making of Stranger Things 5, sebuah dokumenter berdurasi dua jam yang membedah proses kreatif di balik musim terakhir serial sci-fi terbesar mereka. Namun alih-alih menuai pujian, dokumenter ini justru memicu kemarahan baru di kalangan fans — dan menghidupkan kembali teori konspirasi soal finale Stranger Things yang sejak awal dianggap janggal.
Dokumenter tersebut memperlihatkan bagaimana Season 5 dibuat, sekaligus secara tidak langsung mengonfirmasi apa yang sudah lama dirasakan banyak penonton sejak episode terakhir tayang: bahkan sebagian penulisnya sendiri merasa ending tersebut tidak masuk akal.
Sorotan terbesar datang dari satu keputusan yang sejak 2025 diperdebatkan penggemar — absennya demogorgon dan makhluk Upside Down lainnya di episode final.
Dalam episode terakhir, para karakter utama memasuki The Abyss, sumber dari Upside Down dan rumah bagi semua makhluk mengerikan yang selama lima musim meneror Hawkins. Dengan sejarah panjang demogorgon, demodog, dan demobat, penggemar tentu mengantisipasi pertarungan monster terbesar dalam sejarah serial ini.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Tidak ada satu pun makhluk yang menghadang. Para tokoh berjalan santai ke tempat paling berbahaya di semesta Stranger Things seolah sedang masuk ke pusat perbelanjaan. Keputusan ini membuat banyak fans bingung — dan kini terungkap bahwa kebingungan itu juga dirasakan oleh tim penulis sendiri.
Dalam salah satu cuplikan ruang penulisan yang ditampilkan di dokumenter, penulis Paul Dichter secara terang-terangan mempertanyakan logika cerita tersebut.
“Harusnya ada monster di The Abyss. Harus ada demogorgon, kelelawar, anjing, apa pun. Gila rasanya kalau tempat itu kosong sama sekali.”
Pendapat Dichter kemudian ditentang oleh penulis lain, Kate Trefry, yang berargumen bahwa penonton mungkin sudah mengalami demo-fatigue — kejenuhan melihat demogorgon — terutama karena Episode 4 Season 5 sudah menampilkan pertarungan besar melawan monster tersebut.
Argumen inilah yang akhirnya menang. Finale pun diproduksi tanpa satu pun makhluk menjaga dunia asal mereka sendiri.
Bagi banyak penonton, keputusan ini membuat klimaks cerita terasa terlalu mudah. Analogi yang paling sering muncul di media sosial adalah: seperti Frodo dan Sam masuk ke Mordor, tapi semua Orc sedang libur dan cuacanya cerah.
Kemunculan klip perdebatan ini di dokumenter justru memperparah kemarahan penggemar. Banyak yang mempertanyakan mengapa Netflix memilih untuk menampilkan momen ketika seorang penulis secara eksplisit mengatakan bahwa cerita tersebut “tidak masuk akal”.
Lebih parah lagi, dokumenter juga mengungkap bahwa proses syuting finale dimulai sebelum naskahnya benar-benar selesai. Fakta ini membuat pacing episode terakhir yang terasa berantakan kini memiliki penjelasan yang tak terlalu mengejutkan — namun tetap sulit diterima.
Bagi fans, masalahnya bukan sekadar soal demogorgon yang absen. Yang lebih mengganggu adalah logika dunia cerita itu sendiri. Para protagonis masuk ke wilayah musuh, namun tidak menemui penjaga, predator, atau ekosistem apa pun. Tempat yang seharusnya menjadi lokasi paling menyeramkan dalam serial justru terasa kosong dan steril.
Kini, berkat dokumenter ini, penggemar merasa memiliki “bukti resmi” bahwa kritik mereka selama ini memang beralasan — setidaknya satu orang di balik layar sepakat bahwa ending Stranger Things tidak sepenuhnya masuk akal.







