Cinemags
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop
No Result
View All Result
Cinemags
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop
No Result
View All Result
Cinemags
No Result
View All Result

Review Film X-Men: Apocalypse – Sajian Ambisius nan Spektakuler Namun Terasa Hampa

by Paulus Ladiarsa
May 19, 2016
in News, Reviews
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Review Film X-Men: Apocalypse

Walaupun saat pertama kali dicanangkan akan mendapat sentuhan daur ulang ditanggapi oleh banyak kalangan, baik para penikmat maupun pengamat film, Fox berhasil memodifikasi saga ini dari sekadar film parade aksi superhero untuk konsumsi Segala Umur  menjadi saga yang memiliki kedalaman cerita dan dimensi yang berbobot bahkan bagi kalangan penyuka film-film berkualitas. Lewat balutan tone yang lebih kelam dan latar momen sejarah yang terasa pas dengan fokus setting masa kelompok X-Men yang dikedepankan yakni First Class, tidak hanya memupus keraguan namun juga menaikkan derajat saga X-Men.

Apalagi, saat di sekuel pertamanya, pencapaian luar biasa berhasil ditorehkan dengan sukses mempertemukan para anggota First Class dengan generasi X-Men sebelumnya melalui storyline Days of Future Past (DoFP) yang disadur dengan apik oleh tim penulis naskah dan arahan Bryan Singer yang meski bukan sosok asing dalam saga X-Men namun sempat diragukan kapabilitasnya, setelah banyak yang jatuh hati dengan kinerja Matthew Vaughn di film pertamanya, yang memutuskan “lengser keprabon” dari bangku penyutradaraan.   

Maka, tak pelak ekspektasi dan tantangan yang lebih tinggi lagi siap menghadang Singer kala ia memutuskan menahkodai installment ketiga dari saga X-Men generasi baru ini, seraya menggenapkannya menjadi trilogi kedua franchise X-Men. Perlu diinformasikan sebelumnya, bahwa poin-poin penting yang menjadi highlight utama dari film sekuel kedua ini adalah dihadirkannya tokoh antagonis yang menjadi penempat posisi puncak di jagat saga X-Men dan pengenalan versi muda dari  lebih banyak lagi karakter penting dalam franchise ini dan sebelumnya sudah muncul di trilogi pertamanya. Pendek kata ambisiusme yang levelnya lebih tinggi lagi adalah goal yang coba dipersembahkan oleh Singer. Lantas bagaimana dengan hasilnya?

Baca Juga:  Disney Rilis Trailer Perdana Hexed, Film Animasi Baru Bertema Penyihir yang Dibintangi Hailee Steinfeld

Kebingungan Bryan Singer

Kembali mengusung formula film pertamanya  yakni dari naskah cerita asli, alih-alih storyline film keduanya yang memang hasil adaptasi sebuah event besar di saga komiknya, sangat disayangkan Apocalypse menjadi penambah daftar panjang installment babak ketiga franchise film sukses yang kalah kualitas dari film sebelumya. Pasalnya, tidak seperti DoFP yang diakui sangat sekaligus solid dan rapi dalam menyuguhkan balutan kisah yang dikedepankan, dan Singer terkesan percaya diri dalam mengarahkannya, di sini sang sineas terkesan kebingungan dalam mengutarakan apa yang ingin ia tonjolkan di sini.

Kentara sekali bahwa ia memaksakan untuk memberi porsi seadil-adilnya pada banyak karakter yang hadir di sini.  Dengan semakin tumpah-ruahnya karakter dan perihal konflik yang diangkat di dalamnya, acungan jempol tetap pantas diberikan pada sang sineas, yang masih bisa menghadirkan interaksi yang terstruktur antara jajaran pemain lama dan para muka barunya. Untuk banyak hal film ini awalnya seakan tidak takut untuk mengambil banyak waktu guna membangun penceritaannya.

Celakanya, hal itu sedikit berimbas pada pace kisahnya yang mungkin menjadi terkesan sedikit melelahkan bagi sebagian kalangan (kami di antaranya), meski hal ini sebenarnya sudah diantisipasi sebelumnya, mengingat film-film X-Men, setiap installmentnya dikenal sarat dialog dan lebih intelektual dibanding kebanyakan film superhero dari keluarga besar Marvel lainnya. Tonenya, seperti sudah disinggung di awal, menjurus kelam, dengan diwarnai banyak kematian sejak menit-menit awalnya, dan menitikberatkan pada tema berat, seperti kehilangan dan konflik internal. Sungguhpun demikan, masih ada selipan beberapa adegan komikal yang menghibur di dalamnya. 

Pengamatan Kedua

Setelah melalui pengamatan kedua, dilihat dari skala hiburan, Apocalypse adalah film superhero yang sarat aksi, itu adalah fakta tidak bisa dipungkiri lagi, di mana visualisasi yang disajikan di sini skalanya beberapa kali lipat lebih spektakuler lagi dari yang sudah ditampilkan di dua film sebelumnya, pun juga dengan porsi adegan eye candy sosok paling menggelitik dari X-Men generasi terbaru ini, Quicksilver  yang mendapat durasi lebih panjang, setelah sukses mencuri perhatian saat muncul pertama kali di DoFP. Namun, apa lacur, di luar segala pameran efek spektakuler tersebut, Apocalypse kurang meninggalkan impresi mendalam, jika dibandingkan dua predesesornya tersebut. Kesan yang didapat adalah Apocalypse tidak ubahnya X-Men: The Last Stand yang sarat visualisasi spektakuler namun terasa hampa. Meski tentunya, dibandingkan TLS, kualitas Apocalypse masih jauh lebih baik. Dan uniknya, hasil akhir ini seakan berbanding lurus dengan salah satu dialog di filmnya,”The third one’s always the worst.”  

Baca Juga:  Trailer Baru Spider-Man: Brand New Day Pamer Duel Spider-Man vs Hulk

Verdict: 4

Story: 3.5 / 5

Acting: 4 /5

Visual: 4.5 / 5

Directing: 4/5

Baca juga: [Polling] Siapakah Karakter dari Film X-Men: Apocalypse yang Anda Suka?

Tags: Review FilmReview Film X-Men: ApocalypseX-Men: Apocalypse
Previous Post

X-Men: Apocalypse

Next Post

[TRIVIA] Ayo Tes Pengetahuanmu Tentang Marvel Cinematic Universe!

Related Posts

Brendan Fraser Bertemu dengan Jeff Daniels di Film Fiksi Ilmiah Starman, Kisahkan Misi Berbahaya ke Mars
Barat

Brendan Fraser Bertemu dengan Jeff Daniels di Film Fiksi Ilmiah Starman, Kisahkan Misi Berbahaya ke Mars

23/06/2026
Tim Allen Ingin Ajak Tom Hanks Bergabung di Galaxy Quest 2
Barat

Tim Allen Ingin Ajak Tom Hanks Bergabung di Galaxy Quest 2

23/06/2026
Bob Odenkirk Bintangi Remake Unik The Room, Film Kultus Terburuk yang Justru Dicintai
Barat

Bob Odenkirk Bintangi Remake Unik The Room, Film Kultus Terburuk yang Justru Dicintai

23/06/2026
Jenna Ortega Jadi Robot Misterius di Trailer Perdana Klara and the Sun, Film Paling Emosional Taika Waititi
Barat

Jenna Ortega Jadi Robot Misterius di Trailer Perdana Klara and the Sun, Film Paling Emosional Taika Waititi

23/06/2026
Next Post

[TRIVIA] Ayo Tes Pengetahuanmu Tentang Marvel Cinematic Universe!

[elfsight_youtube_gallery id="2"]

Popular 24 Hours

  • Brendan Fraser Bertemu dengan Jeff Daniels di Film Fiksi Ilmiah Starman, Kisahkan Misi Berbahaya ke Mars

    Brendan Fraser Bertemu dengan Jeff Daniels di Film Fiksi Ilmiah Starman, Kisahkan Misi Berbahaya ke Mars

    402 shares
    Share 161 Tweet 101
  • Bob Odenkirk Bintangi Remake Unik The Room, Film Kultus Terburuk yang Justru Dicintai

    402 shares
    Share 161 Tweet 101
  • Jenna Ortega Jadi Robot Misterius di Trailer Perdana Klara and the Sun, Film Paling Emosional Taika Waititi

    401 shares
    Share 160 Tweet 100
  • Tim Allen Ingin Ajak Tom Hanks Bergabung di Galaxy Quest 2

    401 shares
    Share 160 Tweet 100
  • Jurassic World Dominion Resmi Jadi Film Termahal Sepanjang Masa, Biayanya Tembus Rp10 Triliun!

    410 shares
    Share 164 Tweet 103
Cinemags

© 2021 - 2025 Cinemags

Information

  • About Us
  • Advertise
  • Privacy Policy
  • Contact Us

Follow Us

No Result
View All Result
  • Trending
  • Reviews
  • Movie News
  • TV News
  • Interview
  • Lainnya
    • Show Case
    • Komik
    • Shop

© 2021 - 2025 Cinemags